• Nama Kelompok : 
  1. ADI PRASETYANTO [18110848]
  2. GENDIAN BARRAN PERMANA [12110971]
  3. LAKSA AGUNG PRABOWO [13110956]
  • Kelas : 2KA11

MODEL DAN ESTIMASI

PERMINTAAN DAN PENAWARAN KREDIT KONSUMSI RUMAH

TANGGA DI INDONESIA

2.  Penulis : Muliaman D. Hadad ; Wimboh Santoso; Armida Alisjahbana

3.      Nama jurnal : hadad.pdf

4.      Volume : 26

5.      Jumlah halaman yg diringkas : 9

6.      PENDAHULUAN

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2004 diperkirakan sebesar 4,2-4,7 persen (Bank Indonesia, 2004). Perkiraan ini diprediksi dari perkembangan tingkat inflasi yang rendah, nilai tukar rupiah yang relatif stabil, serta suku bunga yang cenderung menurun. Meskipun demikian, pertumbuhan ekonomi masih bersandar pada konsumsi, walaupun peranan ekspor dan investasi meningkat. Salah satu faktor yang mendorong perkembangan konsumsi adalah kredit untuk tujuan konsumsi yang juga cenderung meningkat dalam periode yang sama. Kredit konsumsi menempati urutan kedua setelah kredit modal kerja, dengan proporsi sekitar 30 persen dari total kredit yang disalurkan oleh seluruh jenis bank di Indonesia.

Kenaikan kredit konsumsi yang tidak terawasi dapat berakibat buruk terhadap perekonomian, terutama apabila pihak bank tidak mampu menilai dengan baik potensi atau kemampuan membayar dari seorang debitor. Penelitian yang berhubungan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan rumah tangga untuk melakukan pinjaman (demand for consumer credit) dan keputusan pihak bank dalam memberikan pinjaman kepada rumah tangga (supply for consumer credit) belum banyak dilakukan, terutama di Indonesia. Penelitian ini penting karena dapat dijadikan acuan bagi Bank Indonesia sebagai Bank Sentral untuk mengetahui variabel-variabel yang mempengaruhi permintaan dan penawaran kredit konsumsi. Hasil penelitian dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam melakukan pengawasan, khususnya terhadap perkembangan pemberian kredit konsumsi di Indonesia.

 

7.      MASALAH/TUJUAN

Studi-studi empiris yang telah dilakukan sejauh ini berpijak pada pengujian teori life cycle/permanent income hypothesis (LCPIH) yang beranggapan bahwa konsumen/rumah tangga berupaya untuk memaksimumkan tingkat utilitasnya dengan dihadapkan pada kendala anggaran antar waktu yang dihadapinya. Pada perkembangannya, studi-studi empiris mengenai permintaan kredit konsumsi dilakukan dengan mengamati data yang sifatnya jauh lebih terperinci (mikro) antara lain : kelompok variabel yang mewakili pendapatan, kekayaan dan karakteristik kestabilan pendapatan rumah tangga; kelompok variabel yang mewakili karakteristik demografi; dan kelompok variabel yang mewakili karakteristik jasa perbankan di lokasi tempat rumah tangga berada. Dengan menggunakan data yang bersifat lebih mikro, maka faktor-faktor yang berpengaruh dalam menentukan besarnya permintaan kredit konsumsi di level unit analisis yang lebih rendah dapat diindentifikasikan. Beberapa penelitian empiris mengenai kredit konsumsi dengan menggunakan data di level mikro tersebut antara lain telah dilakukan oleh Cox dan Japelli (1993), Duca dan Rosental (1993), Crook (2001), Barnes dan Young (2003) untuk kasus Amerika Serikat; Magri (2002) untuk kasus Italia; dan Brown et.al. (2003) untuk kasus Inggris. Masing-masing penelitian tersebut pada dasarnya melakukan estimasi atas karakteristik yang kurang lebih sama, hanya saja dilakukan dengan memberikan penekanan yang berbeda dalam issue yang di analisis. Dalam model ekonometrikanya, Cox dan Japelli menggunakan variabel boneka-laten yang hanya dapat terobservasi jika permintaan kredit konsumsi adalah positif dan rumah tangga tidak memiliki kendala kredit (Cox dan Japelli, 1993, hal. 201). Sedangkan variabel independen dalam model Cox dan Japelli (1993) adalah usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, pendapatan daerah (area income), status pekerjaan, dan status tempat tinggal (urban/rural status). Hasil penelitian Cox dan Japelli (1993) memperlihatkan bahwa jika kendala kredit berhasil dihilangkan, maka tingkat kewajiban rumah tangga (household liabilities) dapat meningkat hingga 9 persen (Cox dan Japelli, 1993, hal. 209). Sekalipun demikian, kendala likuiditas sangat mempengaruhi perilaku pinjaman dari rumah tangga yang menolak akses terhadap pasar kredit (Cox dan Japelli, 1993, hal. 209). Lebih jauh lagi, jika kendala kredit dapat dihilangkan, maka akan dapat meningkatkan liabilities dari kelompok ini hingga 75 persen (Cox dan Japelli, 1993, hal. 209). Crook (2001) melakukan penelitian dengan menggunakan data yang serupa untuk tahun yang berbeda (1995). Hasil penelitian Crook (2001) menunjukkan konsistensi dengan penelitian sebelumnya. Penekanan Crook adalah pada

golongan rumah tangga dengan penghasilan rendah dan menengah. Crook juga menemukan bahwa variabel penjelas yang bersifat etnis ikut secara signifikan menentukan apakah rumah tangga memiliki kendala kredit (Crook, 2001, hal. 90 – 91). Selanjutnya, Magri (2002), dengan menggunakan data Survei Kekayaan dan Pendapatan di Italia, melakukan penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi rumah tangga di pasar kredit dan mencoba untuk memisahkan pengaruh permintaan dan penawaran kredit. Dalam model ekonometrikanya, Magri menggolongkan usia, kekayaan netto, kapasitas pendapatan (earning capacity), pendidikan, dan tingkat suku bunga sebagai variabel-variabel yang dapat mempengaruhi permintaan maupun penawaran kredit konsumsi di Italia (Magri, 2002, hal. 17 – 18). Hasil penelitian Magri menunjukkan bahwa permintaan kredit oleh rumah tangga di Italia meningkat seiring dengan meningkatnya usia (Magri, 2002, hal. 22). Di samping itu,

disposable income juga memiliki pengaruh positif terhadap permintaan maupun penawaran kredit (Magri, 2002, hal. 23). Namun, variabel net wealth atau kekayaan netto tidak begitu signifikan dalam menjelaskan permintaan terhadap kredit (Magri, 2002, hal. 23). Faktor lainnya yang penting dalam menjelaskan permintaan dan penawaran kredit adalah pendidikan, sebagai variabel yang menjadi proxy pendapatan di masa yang akan datang, di mana faktor tersebut berhubungan positif dengan permintaan kredit (Magri, 2002,

hal. 24). Dari tinjauan literatur di atas, upaya awal yang perlu dilakukan dalam penelitian kredit konsumsi di Indonesia adalah mengembangkan model turunan dari sistem permintaan dan penawaran kredit konsumsi yang sesuai untuk kasus di Indonesia.

 

8.      TINJAU PUSTAKA

Daftar Pustaka

Aizcorbe, Ana M., Arthur B. Kennickell, dan Kevin B. Moore. 2003. Recent Changes in

U.S. Family Finances: Evidence from the 1998 and 2001 Survey of Consumer Finances.

Federal Reserve Survey of Consumer and Finance.

Badan Pusat Statistik, Survei Khusus Tabungan dan Investasi Rumah Tangga, berbagai

edisi.

Bank Indonesia. 2004. Perkembangan Indikator Sektor Riil Terpilih, Maret.

Bank Indonesia., Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia, berbagai edisi.

Barnes, Sebastian dan Gary Young. 2003. The rise in US household debt: assessing its

causes and sustainability. The Bank of England’s Working Paper, No.206.

Cox, Donald dan Tulio Jappeli. The Effect of Borrowing Constraints on Consumer

Liabilities. 1993. Journal of Money, Credit, and Banking, Vol. 25 No.2.

Crook, Jonathan. 2001. The demand for household debt in the USA: evidence from the

1995 Survey of Consumer Finance. Applied Financial Economics, 2001, 11, 83-91.

____________. 2003. The Demand and Supply for Household Debt: A Cross Country

Comparison. Journal of Economics Literature.

Diagne, Aliou, Manfred Zeller, dan Manohar Sharma. 2000. Empirical Measurements of

Households’ Access to Credit and Credit Constraints in Developing Countries:

Methodological Issues and Evidence. FCND Discussion Paper No. 90.

____________. Access to Credit and Its Impact on Welfare in Malawi. 2001. Research

Report 116, International Food Policy Research Institute, Washington DC.

Duca, John V. dan Stuart S. Rosenthal. 1992. Borrowing Constraints, Household Debt,

and Racial Discrimination in Loan Markets. Journal of Financial Intermediation, 3, 77-

103 (1993).

Hayashi, Fumio. 1985. The Effect of Liquidity Constraints on Consumption: A Cross

Section Analysis. The Quarterly Journal of Economics, 100 (1), 183-206 (1985).

Kenward, Llyod R. 2004. Survey of Recent Developments. Bulletin of Indonesian

Economic Studies. Vol.40 No.1.

Magri, S. 2002. Italian households’ debt: determinants of demand and supply. Mimeo.

Rome: Bank of Italy.

Mohieldin, Mahmoud S. dan Peter W. Wright. 2000. Formal and informal credit market

in Egypt. Economic Development and Cultural Change. Vol.48 No.3.

Murphy, Robert G. 1999. Household debt and aggregate consumption expenditures.

Journal of Economics Literature.

 

 9.      HIPOTESIS

Tabel 2 menggambarkan hasil tahap pertama estimasi model probit untuk rumah tangga

yang tidak terkendala kredit. Hasil estimasi menunjukkan bahwa probabilitas suatu

rumah tangga tidak terkendala kredit akan meningkat sejalan dengan peningkatan

pendapatan kepala rumah tangga. Hal yang sama juga berlaku dengan semakin

banyaknya jumlah anggota rumah tangga yang bekerja.

Untuk melihat seberapa jauh model dapat memprediksi secara tepat, maka dihitung

probability of correct prediction dengan cara membandingkan hasil estimasi dengan

kondisi yang sebenarnya. Berdasarkan perhitungan, maka hasil estimasi probit tahap

pertama tersebut memiliki kekuatan prediksi yang cukup besar, dimana 2695 rumah

tangga atau 74,68 persen dari keseluruhan 3600 sampel diprediksi secara tepat oleh

model tersebut.

Tabel 2 : Estimasi Probit : Apakah Rumah Tangga Tidak Terkendala Kredit

Variabel                                                                                     Variabel Koefisien Z Rata-Rata

Umur kepala RT                                                                     [ -0.0001, -0.01 ,46.54]

Umur kuadrat kepala RT                                                        [-0.00002, -0.18 ,2346.97]

Apakah kepala RT perempuan                                                [-0.253, -3.08 *** ,0.12]

Perubahan networth RT : berkurang                                       [0.216, 2.98 *** ,0.15]

Perubahan networth RT : bertambah (sedang)                       [0.782, 12.76 *** ,0.23]

Perubahan networth RT : bertambah (tinggi)                         [1.697, 22.37 *** ,0.22]

ln perubahan pendapatan RT dari bekerja/berusaha               [0.265, 10.21 *** ,9.13]

Jumlah ART yang bekerja atau berusaha                                 [0.139, 4.74 *** ,1.61]

Jumlah ART                                                                            [-0.164, -9.68 *** ,4.06]

5 Kategori kelompok pulau yang dihilangkan dalam estimasi ini adalah pulau-pulau lainnya di luar Jawa

dan Sumatera.

  

Tempat tinggal RT : Apakah di daerah perkotaan                              [ -0.294, -5.02 *** ,0.52]

ln PDRB/kapita dari daerah tempat tinggal RT                                  [-0.053,  -1.11              ,2,941a)]

Pekerjaan kepala RT : berusaha dengan buruh                                   [0.167,  2.45 *** ,0.17]

Pekerjaan kepala RT : pegawai negeri sipil                                         [0.024, 0.26 ,0.09]

Pekerjaan kepala RT : swasta/BUMN                                                [-0.140, -2.52 *** ,0.38]

Rasio konsentrasi perbankan                                                               [-0.007, -1.28 ,10.41]

Tempat tinggal RT : Pulau Sumatera                                                  [0.262, 3.13 *** ,0.13]

Tempat tinggal RT : Pulau Jawa                                                         [-0.108, -1.09 ,0.60]

Konstanta                                                                                            [-1.556,  -2.07**]

Jumlah observasi                                                                                 [3599]

LR Chi2(15)                                                                                       [1191.2]

Log Likehood                                                                                                 [-1867.0]

Pseudo R2                                                                                          [0.2]

Catatan: a)Rp 000 per tahun

** Signifikan pada tingkat kepercayaan 95%; *** Signifikan pada tingkat kepercayaan

99%.

Selanjutnya, estimasi tahap kedua yaitu model probit untuk rumah tangga yang

memiliki kredit menunjukkan bahwa probabilitas rumah tangga untuk memiliki kredit

akan akan semakin besar dengan semakin meningkatnya umur kepala rumah tangga.

Hal yang sama berlaku dengan semakin banyaknya anggota rumah tangga yang bekerja

atau berusaha. Demikian juga halnya dengan rumah tangga yang tinggal di daerah

perkotaan, atau juga rumah tangga yang tinggal di daerah dengan tingkat pendapatan

per kapita yang semakin tinggi. Probabilitas rumah tangga memiliki kredit juga akan

lebih besar jika kepala rumah tangga memiliki pekerjaan sebagai pegawai negeri sipil,

pegawai swasta/BUMN atau berusaha dengan buruh dibandingkan dengan kepala

keluarga yang berusaha tanpa buruh.

Persamaan probit kedua ini memberikan tingkat probabilitas sesuai dengan kondisi

sebenarnya sebanyak 3073 dari 3600 sampel atau 85,42 persen dari seluruh sampel yang

digunakan dalam estimasi ini.

Hasil estimasi dari persamaan permintaan kredit konsumsi rumah tangga ditunjukkan

pada tabel 4 yang menggambarkan persamaan jumlah kredit konsumsi yang diminta

rumah tangga setelah dikoreksi oleh dua sumber bias pemilihan sampel (sample

selection bias). Variabel terikat (dependen) dari model ini merupakan total kredit

konsumsi rumah tangga yang terdiri dari kredit yang berasal dari bank, koperasi,

pegadaian dan sumber lainnya. Angka total kredit konsumsi rumah tangga ini

digunakan, karena hanya sedikit sekali responden yang memiliki kredit yang berasal

dari bank, meskipun secara keseluruhan nilainya relatif besar dibandingkan yang

berasal dari sumber lainnya.

Selain mengestimasi persamaan permintaan kredit konsumsi rumah tangga, studi ini

juga menghitung tingkat kejenuhannya yang dapat diestimasi dengan menghitung selisih

(gap) antara nilai kredit yang diinginkan (desired debt) dengan nilai kredit yang

diterima (actual debt). Bila selisih antara keduanya semakin kecil, berarti permintaan

kredit sudah semakin jenuh.

 

10.      VARIABEL YANG DIGUNAKAN

Variabel:

  • Umur kepala RT
  • Umur kuadrat kepala RT
  • Apakah kepala RT perempuan
  • Perubahan networth RT : berkurang
  • Perubahan networth RT : bertambah (sedang)
  • Perubahan networth RT : bertambah (tinggi
  • ln perubahan pendapatan RT dari bekerja/berusaha
  • Jumlah ART yang bekerja atau berusaha
  • Jumlah ART
  • Tempat tinggal RT : Apakah di daerah perkotaan
  • ln PDRB/kapita dari daerah tempat tinggal RT
  • Pekerjaan kepala RT : berusaha dengan buruh
  • Pekerjaan kepala RT : pegawai negeri sipil
  • Pekerjaan kepala RT : swasta/BUMN
  • Konstanta
  • Jumlah Observasi 3597
  • LR Chi2(14)
  • Log Likehood
  • Pseudo R2

 

Variabel Bebas:

  • Cit
  • IRCit
  • LnCRIit
  • LnYi(t-1) *
  • LnDPKit
  • RNPLi(t-1)
  • URit
  • Di

 

 11.      SAMPLING

Jumlah sampel yang digunakan dalam estimasi model adalah 3600 rumah tangga dari 3760 rumah tangga yang disurvei dalam SKTIR tahun 2003. Ketidaklengkapan data (missing values) untuk beberapa variabel yang dipakai dalam model menyebabkan beberapa rumah tangga tidak disertakan dalam estimasi. Tabel 1 menggambarkan rata-rata sampel dan standar deviasi dari variabel-variabel yang digunakan dalam model.

 

12.      KESIMPULAN

Sebagai bahan bagi arahan monitoring kebijakan pemberian dan penawaran kredit konsumsi rumah tangga, penelitian ini menghasilkan beberapa kesimpulan sebagai berikut:

 

  1. Terdapat beberapa faktor yang secara positif dan signifikan dapat mempengaruhi suatu rumah tangga menjadi tidak terkendala kredit, yaitu: peningkatan perubahan pendapatan kepala rumah tangga dari berusaha atau bekerja dan semakin banyaknya jumlah anggota rumah tangga yang bekerja. Sebaliknya kepala rumah tangga perempuan relatif terdiskriminasi dibandingkan dengan kepala rumah tangga laki-laki dalam hal tidak terkendala untuk mendapatkan kredit (credit unconstrained). Demikian pula rumah tangga yang berada di luar pulau Jawa dan Sumatera relatif memiliki kendala kredit dibandingkan dengan mereka yang tinggal di Jawa dan Sumatera.
  2. Di lain pihak terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi secara positif dan signifikan probabilitas suatu rumah tangga memiliki kredit, yaitu: umur kepala rumah tangga, jumlah anggota rumah tangga yang bekerja atau berusaha, lokasi tempat tinggal di perkotaan serta semakin tingginya pendapatan perkapita di daerah tersebut. Probabilitas rumah tangga memiliki kredit juga akan lebih besar jika kepala rumah tangga memiliki pekerjaan sebagai pegawai negeri sipil, pegawai swasta/BUMN atau berusaha dengan buruh dibandingkan dengan kepala keluarga yang berusaha tanpa buruh.
  3. Hasil perhitungan permintaan kredit konsumsi di tingkat rumah tangga menunjukkan masih adanya kesenjangan antara nilai kredit yang diinginkan dengan nilai kredit yang terealisasi, yaitu sebesar Rp 184.952 per rumah tangga atau 28,93 persen lebih tinggi dari kredit yang terealisasi untuk keseluruhan sampel. Namun perlu diingat bahwa angka ini mencerminkan kesenjangan (gap) antara nilai kredit yang diinginkan dibandingkan dengan realisasinya dari semua sumber pinjaman perbankan, koperasi, pegadaian, lainnya).
  4. Terdapat indikasi sudah terjadinya kejenuhan pada permintaan kredit konsumsi dengan menggunakan estimasi agregasi di tingkat propinsi. Data realisasi permintaan kredit konsumsi sampai triwulan kedua tahun 2004 (6 bulan pertama) telah mencapai 64 persen terhadap nilai prediksinya untuk keseluruhan tahun 2004. Bahkan di beberapa provinsi seperti Jawa Barat dan Sulawesi Utara, telah melampaui besaran kredit yang diprediksi, atau telah jenuh.
  5. Gambaran keseluruhan dari hasil estimasi menggunakan model perilaku penawaran kredit konsumsi di tingkat propinsi menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas perekonomian cenderung akan di respons oleh perbankan dengan menaikkan porsi pemberian kredit dalam bentuk kredit konsumsi. Hal ini sejalan dengan fenomena bahwa salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi, termasuk pertumbuhan ekonomi di tingkat daerah adalah konsumsi masyarakat.

Namun demikian, untuk daerah-daerah dengan sektor perbankan yang sudah relatif lebih maju yang ditandai oleh semakin tingginya CR (concentration ratio) dan LDR (Loan to Deposit Ratio), maka akan terjadi pergeseran pola pemberian kredit kearah peningkatan pemberian kredit untuk modal kerja dan investasi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa peningkatan pemberian kredit konsumsi ini akan terkoreksi oleh sektor perbankan yang lebih maju dan efisien, karena sektor perbankan yang demikian akan mengarahkan pemberian kreditnya untuk keperluan kegiatan investasi dan modal kerja yang lebih produktif.  

 

13.      KETERBATASAN

Koefisien variabel independen menunjukkan bahwa meningkatnya pendapatan rumah

tangga yang berasal dari kepala keluarga yang bekerja/berusaha akan menyebabkan

peningkatan terhadap jumlah kredit yang diinginkan (desired debt) dimana peningkatan

perubahan pendapatan sebesar 10 persen akan direspon oleh peningkatan jumlah kredit

yang diinginkan sebesar 7,6 persen. Perubahan asset / networth yang positif juga akan

meningkatkan jumlah kredit yang diinginkan (desired debt). Sebaliknya, jika kepala

rumah tangga tersebut adalah perempuan maka jumlah kredit yang diinginkannya justru

akan lebih kecil dibandingkan dengan jika kepala keluarga adalah laki-laki. Jumlah

anggota rumah tangga yang semakin banyak juga cenderung akan mengurangi jumlah

kredit yang diingikan.

Tanda dari koefisien lamda persamaan yang tidak terkendala kredit, menunjukkan

korelasi antara unobservables dalam persamaan yang tidak terkendala kredit dan

unobservables dalam persamaan jumlah kredit yang diminta. Tanda positif

menunjukkan bahwa unobserved faktor yang meningkatkan keinginan kredit memiliki

kecenderungan berhubungan secara positif dengan probabilitas suatu rumah tangga

untuk tidak terkendala kredit. Koefisien dari selection term yang kedua (lamda dari

persamaan kedua) menunjukkan korelasi positif antara error dari persamaan probit

memiliki kredit dengan persamaan jumlah kredit yang diminta rumah tangga, sehingga

faktor lain (unobservable) yang meningkatkan probablilitas rumah tangga memiliki

kredit juga akan meningkatkan jumlah kredit yang diinginkan.

 

 14.      IMPLIKASI

Adapun implikasi kebijakan yang bersifat internal Bank Indonesia dalam hal dukungan

penyediaan data permintaan kredit konsumsi di tingkat rumah tangga adalah sebagai berikut:

  • Perlu dikembangkan kemampuan dukungan data berkala yang menggambarkan perkembangan stock maupun perubahan permintaan kredit konsumsi di tingkat rumah tangga menurut jenis dan sumber pemberian kredit.
  • Ketersediaan data yang lebih akurat semacam yang dapat diberikan oleh Survey of Consumer Finance akan menghasilkan estimasi permintaan kredit konsumsi rumah tangga dengan sepenuhnya memisahkan rumah tangga yang benar-benar terkendala kredit (credit constrained) dengan yang tidak terkendala kredit.
  • Dengan semakin meningkatnya peran dan dampak dari kredit konsumsi rumah tangga, maka kebutuhan akan data-data monitoring kredit konsumsi rumah tangga tersebut seyogyanya dapat diakomodasi secara rutin melalui pelaksanaan survei khusus sebagaimana yang telah dilakukan di Negara lain dalam bentuk Survey of Consumer Finance.

Selanjutnya, hasil estimasi model-model permintaan maupun penawaran kredit

konsumsi memberikan implikasi kebijakan bagi arahan monitoring permintaan dan

penawaran kredit konsumsi sebagai berikut:

  • Indikasi awal dari hasil estimasi tingkat kejenuhan permintaan kredit konsumsi memang menunjukkan masih terdapatnya ruang bagi peningkatan pemberian kredit konsumsi rumah tangga, karena nilai realisasi rata-rata per rumah tangga masih sekitar 28,93 persen dari nilai prediksinya. Namun perlu diingat bahwa angka ini mencerminkan kesenjangan (gap) antara nilai kredit yang diinginkan dibandingkan dengan realisasinya dari semua sumber pinjaman (perbankan, koperasi, pegadaian, lainnya). Melihat pada hasil tersebut, sangat mungkin terjadi bahwa sesungguhnya permintaan kredit konsumsi rumah tangga khusus yang berasal dari sumber perbankan sudah mencapai tingkat kejenuhan.
  • Sudah tercapainya tingkat kejenuhan permintaan kredit konsumsi juga didukung oleh hasil estimasi menggunakan model permintaan di tingkat propinsi, namun tingkat kejenuhan ini berbeda-beda antar propinsi. Monitoring tingkat kejenuhan permintaan dan penawaran kredit konsumsi tidak dapat diberlakukan secara sama, tetapi harus memperhatikan perbedaan tingkat kejenuhan tersebut antar daerah.
  • Meskipun hasil estimasi perilaku pemberian kredit konsumsi di tingkat propinsi mengindikasikan adanya mekanisme self-correction dari perbankan dalam pola alokasi pemberian kreditnya menurut jenis (antara konsumsi, investasi dan modal kerja), namun tetap perlu dilakukan pemantauan secara spesifik menurut jenis kredit konsumsi tersebut dan kemampuan membayar dari konsumen untuk masing-masing lembaga perbankan.