blue valentine

Genre : Drama
Release Date : December 31, 2010
Director : Derek Cianfrance
Script : Derek Cianfrance, Cami Delavigne, Joey Curtis
Producer : Doug Dey, Lynette Howell, Carrie Fix, Alex Orlovsky, Jamie Patricof, Jack Lechner
Distributor : The Weinstein Company
Duration : 114 minutes
Budget : US$$8 million
Official Site : www.bluevalentinemovie.com

Penulis sekaligus sutradara, Derek Cianfrance, mencoba untuk menganalisa proses terbentuknya dan mulai terpecahnya sebuah pernikahan lewat Blue Valentine, film yang menjadi karya keduanya setelah merilis Brother Tied pada tahun 1998 lalu. Film ini menampilkan kehidupan pasangan Dean dan Cindy (Ryan Gosling dan Michelle Williams) dalam jangka waktu tujuh tahun masa perkenalan dan pernikahan mereka dalam sederetan adegan yang menampilkan masa tersebut dalam alur maju dan mundur. Cianfrance membuktikan bahwa ia adalah seorang sutradara yang sangat berbakat dalam mengarahkan aktornya. Sayangnya, beberapa kelemahan yang terdapat pada proses penceritaan sendiri membuat Blue Valentine terasa sedikit hambar pada beberapa bagian.

 

Kisahnya percintaan Dean dan Cindy sendiri dimulai ketika Dean, seorang pemuda tampan yang bekerja di sebuahmoving company di Brooklyn, bertemu dengan Cindy, seorang mahasiswi kedokteran cerdas yang sedang bermasalah dengan kekasihnya, Bobby (Mike Vogel), di sebuah panti jompo. Walau pada awalnya berusaha menolak kehadiran Dean di dalam kehidupannya, pertemuan yang tidak disengaja antara keduanya di sebuah bus membuat Cindy semakin mengenal siapa Dean sebenarnya, dan lama-kelamaan, mulai jatuh hati dengan pria tersebut.

Seperti pasangan lainnya yang sedang dimabuk cinta, Dean dan Cindy menghabiskan waktu berdua dengan berbagai kebahagiaan. Tantangan terbesar dari cinta mereka datang ketika Cindy mengetahui bahwa dirinya tengah hamil, dan merasa bahwa janin tersebut adalah milik mantan kekasihnya, Bobby, dan bukan milik Dean. Setelah sebuah proses aborsi yang gagal, Dean akhirnya setuju untuk menikahi Cindy dan menerima janin tersebut sebagai anaknya. Tentu, proses pernikahan tidak hanya terjadi selama pesta pernikahan berlangsung. Blue Valentine kemudian menganalisa bagaimana Dean dan Cindy menghadapi naik turunnya perjalanan pernikahan itu sendiri.

 

Tidak seperti halnya Revolutionary Road (2008), sebuah gambaran depresif lainnya mengenai sebuah pernikahan, Blue Valentine tidak mencoba untuk mencari karakter mana yang menjadi titik lemah dalam pernikahan Dean dan Cindy. Bahkan, jalan cerita film ini tidak begitu jelas dalam menggambarkan mengapa pasangan yang awalnya begitu mencintai menjadi pasangan yang kemudian saling membenci satu sama lain. Ini yang sempat membuat penonton akan meraba-raba dan menduga-duga di sepanjang jalan cerita. Namun, penonton tentunya dapat merasakan bahwa alur komunikasi yang berjalan tidak efektif antara keduanya merupakan faktor utama yang menjadi penghalang keduanya dalam menjalin sebuah hubungan pernikahan yang sehat.

 

Dean dan Cindy juga merupakan dua karakter yang sama sekali tidak memiliki latar belakang dan pengetahuan mengenai bagaimana membentuk sebuah keluarga. Dean terlahir dari keluarga yang broken home, sementara Cindy, walaupun kedua orangtuanya tidak pernah bercerai, namun merupakan pasangan yang tidak pernah saling menghormati satu sama lain. Adalah sangat jelas di sepanjang jalan cerita Blue Valentine, Dean dan Cindy merupakan pasangan yang mengira bahwa rasa cinta, seks dan kontak fisik adalah sebuah faktor yang terpenting dalam sebuah pernikahan. Ketika faktor tersebut mengalami pengurangan dalam kehidupan mereka, ketika itu juga kehidupan pernikahan mereka mulai menemui banyak hambatan.

 

Blue Valentine ditampilkan dengan sebuah proses cerita yang membuat setiap penontonnya dapat membandingkan bagaimana kehidupan Dean dan Cindy sebelum dan sesudah pernikahan. Hal ini dilakukan lewat deretan adegan yang melompat antara adegan yang berlangsung di masa sekarang dengan adegan yang berlangsung di masa lalu lewat proses pengeditan yang sangat cerdas. Hasilnya, tiap adegan mampu merangkai tiap aliran emosi dengan sangat baik dan tak pernah kehilangan satupun momen emosional di tiap ceritanya. Tiap emosi ditampilkan saling berlawanan masa-masa bahagia sebelum pernikahan terjadi dan masa-masa depresi ketika pernikahan itu berlangsung yang membuat Blue Valentine begitu nyata dan jujur.

 

Hasil terbaik itu juga didorong dengan kemampuan dua aktor utamanya, Ryan Gosling dan Michelle Williams. Gosling dan Williams menampilkan karakter mereka dengan chemistry yang tercipta begitu alami. Tampil bersama di sepanjang 112 menit durasi film ini berjalan, Gosling dan Williams merupakan elemen terpenting dalam Blue Valentine dan menjadikan kisah film ini terasa begitu manis pada awalnya, namun begitu menyesakkan dan menyakitkan di bagian lain. Kehadiran mereka juga yang akan membuat Blue Valentine begitu terasa personal bagi beberapa kalangan penontonnya, khususnya ditambah dengan deretan dialog yang begitu terasa puitis dan mendalam, sinematografi yang indah serta deretan lagu-lagu yang mampu meningkatkan setiap tampilan emosi yang ada.

 

Untuk mengatakan Blue Valentine adalah sebuah gambaran pesimistik mengenai sebuah pernikahan, mungkin bukan merupakan cara terbaik untuk mendeskripsikan film ini. Blue Valentine lebih baik untuk digambarkan sebagai potret jujur dari sebagian pernikahan yang menemui jalan buntu di dalam perjalanannya. Derek Cianfrance mampu mengeluarkan kemampuan akting terbaik dari Ryan Gosling dan Michelle Williams sekaligus menampilkan jalan cerita film ini dengan sentuhan tata teknis yang sangat tidak mengecewakan yang kemudian membuat Blue Valentine menjadi sebuah drama percintaan depresif yang penuh dengan momen-momen emosional yang mendalam.

 

Kelebihan

Film Blue Valentine ini sangat menarik karena disajikan dengan alur cerita yang maju dan mundur, jadi penonton seperti merasakan seakan-akan mereka juga merasakan kisahnya itu serta pastinya penonton juga tidak akan bosan kalau alurnya maju mundur seperti ini, tidak seperti kebanyakan film lain yang rata-rata memiliki alur maju semua. Dan dengan akting yang sangat bagus dari pemerannya masing-masing, film ini dapat memberikan pengetahuan dan pelajaran bagaimanakah cinta sejati itu, mempertahankannya, hingga sampai menikah meski walaupun pada akhirnya berujung menyakitkan dan penuh drama depresif didalamnya.

 

Kekurangan

Pada film ini banyak adegan-adegan senonoh, maksudnya adegan-adegan yang sepertinya masih kurang pantas untuk ditonton oleh adik-adik yang masih duduk dibangku sekolah dsb. Karena pada film ini tentu sangat jelas mengisahkan hubungan kekasih yang akhirnya menikah menjadi suami istri, dan oleh karena itu didalamnya penuh dengan adegan-adegan porno yang pastinya belum pantas jika untuk ditonton oleh adik-adik yang masih dibawah usia 17 tahun.

 

Saran

Alangkah lebih baik jika sebaiknya pada film ini agak dikurangi untuk adegan-adegan yang masih kurang pantas didalamnya. Karena bila adegan-adegan itu bisa dikurangi atau lebih-lebih bisa dihilangkan, bisa dipastikan bahwa peminatnya untuk menonton film ini akan lebih banyak sehingga akan meningkatkan pendapatan dari produksi film ini sendiri pastinya.